Widget edited by super-bee

Pages

Showing posts with label Budaya. Show all posts
Showing posts with label Budaya. Show all posts

Sunday, 16 March 2014

✎ Budaya orang Indonesia yang mulai hilang



Kita sebagai orang Indonesia yang berbudi luhur pasti tahu dengan budaya yang akan dibahas ini, tapi belakangan kita bisa melihat, merasakan (bahkan mungkin mengalami) udah mulai berkurang. Jadi, kami coba angkat deh, supaya Anda mau mengembalikan budaya kita, menjadi budaya sesungguhnya !

1. Cium Tangan Pada Orang Tua



Biasanya sih dibilang “salim“, bila di semasa saya hal ini merupakan kewajiban anak kepada orang tua disaat ingin pergi ke sekolah atau berpamitan ke tempat lain. Sebenarnya hal ini penting loh, selain menanamkan rasa cinta kita sama ortu, cium tangan itu sebagai tanda hormat dan terima kasih kita sama mereka, sudahkah kalian mencium tangan orang tua hari ini?
2. Penggunaan tangan kanan


Bila di luar negeri sih, saya rasa gak masalah dengan penggunaan tangan baik kanan ataupun kiri, tapi hal ini bukanlah budaya kita. Budaya kita mengajarkan untuk berjabat tangan, memberikan barang, ataupun makan menggunakan tangan kanan. (kecuali memang di anugerahi kebiasaan kidal sejak lahir).
3. Senyum dan Sapa


Ini sih Indonesia banget! Dulu citra bangsa kita identik dengan ramah tamah dan murah senyum. So, jangan sampai hilang, ya! Ga ada ruginya juga kita ngelakuin hal ini, toh juga bermanfaat bagi kita sendiri. Karena senyum itu ibadah dan sapa itu menambah keakraban dengan sekitar kita.
4. Musyawarah


Satu lagi budaya yang udah jarang ditemuin khususnya di kota-kota besar semisal Jakarta. Kebanyakan penduduk di kota besar hanya mementingkan egonya masing-masing, pamer inilah itulah, mau jadi pemimpin kelompok ini itu dan bahkan suka main hakim sendiri. Tapi coba kita melihat desa-desa yang masih menggunakan budaya ini mereka hidup tentram dan saling percaya, ga ada yang namanya saling sikut dan menjatuhkan, semua perbedaan di usahakan secara musyawarah dan mufakat. Jadi sebaiknya Anda yang ‘masih’ merasa muda harus melestarikan budaya ini demi keberlangsungan negara Indonesia yang tentram dan cinta damai.
Dan budaya yang terakhir,..

5. Gotong Royong


“Itu bukan urusan aku!“, “emang aku pikiran“, Whats up bro? Ada apa dengan kalian? Hayoolah kita sebagai generasi muda mulai menimbulkan lagi rasa simpati dengan membantu seksama, karena dengan kebiasaann seperti inilah bangsa kita bisa merdeka saat masa penjajahan, ga ada tuh perasaan curiga, dan dulu persatuan kita kuat.


Sumber


Thursday, 7 March 2013

✎ Hompimpa, Suten/Sut dan Suwit Jepang


Hompimpa

Dalam hompimpa(h), yang ada hanya dua kemungkinan:
  • telungkup atau tengadah
  • tertutup atau terbuka.
  • Hitam atau putih
  • ya atau tidak.

Inilah momen pembelajaran bagi anak-anak Jogja agar bisa bersikap jelas dan tegas. Cepat dan lugas. Tak ada lagi posisi "di antara" (GOLPUT), tak boleh sok bijak merangkum dua kutub yang berseberangan, tak bisa negosiasi berkepanjangan.

Tak bisa pula berlindung di balik semboyan masyhur para leluhur, ngono ya ngono ning aja ngono (Silakan begitu asal jangan begitu).

Dalam hompimpa(h) tak boleh ada area abu-abu. Tak perlu selalu ragu. Satu-satunya yang boleh diragukan adalah keraguan itu sendiri.

****

Hompimpa atau hompimpah adalah sebuah cara untuk menentukan siapa yang menang dan kalah dengan menggunakan telapak tangan yang dilakukan oleh minimal tiga peserta. Secara bersama-sama, peserta mengucapkan kata hom-pim-pa. Ketika mengucapkan suku kata terakhir (pa), masing-masing peserta memperlihatkan salah satu telapak tangan dengan bagian dalam telapak tangan menghadap ke bawah atau ke atas.

Dalam budaya Betawi, hompimpa dilakukan dengan lagu berlirik “Hompimpa alaium gambreng. Mpok Ipah pakai baju rombeng.

Pemenang adalah peserta yang memperlihatkan telapak tangan yang berbeda dari para peserta lainnya. Ketika peserta lainnya sudah menang, peserta yang kalah ditentukan oleh dua peserta yang tersisa dengan melakukan suten.

Biasanya hompimpa digunakan oleh anak-anak untuk menentukan giliran dalam sebuah permainan. Sewaktu bermain Petak Umpet misalnya, anak yang kalah hompimpa mendapat giliran sebagai penjaga pos.

Kalimat “Hongpimpa Alaium Gambreng” sendiri bermakna “Dari Tuhan Kembali Ke Tuhan, Mari Kita Bermain”

Suten
Suten, sut atau populer sebagai suit (suwit) dan pingsut adalah cara mengundi untuk dua orang dengan cara mengadu jari untuk menentukan siapa yang menang. Dalam permainan anak-anak, pemenang sut dapat lebih dulu bermain atau terbebas dari menjaga. Sebagai pengganti undian, suten dipakai untuk menentukan siapa yang memperoleh sesuatu, atau siapa yang lebih dulu dapat memulai sesuatu.



Peraturan
Jari yang dipergunakan dalam sut adalah ibu jari yang diumpamakan sebagai gajah, jari telunjuk yang diumpamakan sebagai manusia, dan jarikelingking yang diumpamakan sebagai semut. Dua orang yang bersuten secara serentak mengacungkan jari yang dipilihnya. Hasil seri terjadi bila kedua belah pihak yang bersuten mengacungkan jari yang berkekuatan sama, misalnya: kelingking melawan kelingking. Bila terjadi seri, suten diulang hingga ada pihak yang menang.
Jari yang menjadi pemenang suten:
  • Ibu jari versus telunjuk: pemenang adalah ibu jari.
  • Telunjuk versus kelingking: pemenang adalah telunjuk.
  • Kelingking versus ibu jari: pemenang adalah kelingking.

Batu-Gunting-Kertas (Suwit Jepang)
Batu-Gunting-Kertas adalah sebuah permainan tangan dua orang. Permainan ini sering digunakan untukpemilihan acak, seperti halnya pelemparan koin, dadu, dan lain-lain. Beberapa permainan dan olahragamenggunakannya untuk menentukan peserta mana yang bermain terlebih dahulu. Kadang ia juga dipakai untuk menentukan peran dalam permainan peran, maupun dipakai sebagai sarana perjudian. Permainan ini dimainkan di berbagai belahan dunia.

Di kalangan anak-anak Indonesia, permainan ini juga dikenal dengan istilah "Suwit Jepang". Di Indonesia dikenal juga permainan sejenis yang dinamakan suwit.



Cara permainan

Setiap isyarat mengalahkan satu dari dua isyarat lainnya.
Terdapat tiga isyarat tangan dalam permainan ini. Batu digambarkan oleh tangan mengepal, gunting digambarkan oleh jari telunjuk dan tengah, kertas digambarkan oleh tangan terbuka. Tujuan dari permainan adalah mengalahkan lawan bermain. Aturan standar adalah batu mengalahkan gunting, gunting mengalahkan kertas, dan kertas mengalahkan batu.
Jika kedua pemain mengeluarkan isyarat yang sama, maka permainan diulang. Kadangkala pemain menggunakan sistem berulang-ulang artinya sekali kemenangan tidak cukup untuk menghentikan permainan. Misalnya pemain yang menang 5 kali terlebih dahulu menjadi pemenang.



Saturday, 23 February 2013

✎ Dolanan Engklek


Engklek adalah suatu permainan tradisional lompat-lompatan pada bidang datar yang telah diberi garis pola kotak-kotak, kemudian melompat dengan satu kaki dari kotak satu ke kotak berikutnya. Sebutan engklek sendiri berasal dari bahasa Jawa, dan di beberapa daerah namanya juga bermacam-macam seperti téklék, ingkling, ciplak gunung, sundamanda / sundah-mandah, jlong jling, lempeng, dampu, gedrik (Trenggalek), gejring (Kediri) dan lain-lain tergantung daerahnya. Biasanya permainan ini dimainkan oleh anak-anak perempuan, namun tak jarang juga anak laki-lakipun turut serta bermain. Mereka biasa memainkannya di pekarangan rumah, kebun, atau di tanah kosong.



Sejarahnya?
 Untuk sementara ini ada dua versi tentang sejarah awal mula permainan engklek.

Versi PertamaTerdapat dugaan bahwa nama permainan ini berasal dari "zondag-maandag" yang berasal dari Belanda dan menyebar ke nusantara pada zaman kolonial. (sumber: wikipedia.org)Versi KeduaMenurut Dr. Smpuck Hur Gronje, permainan ini berasal dari Hindustan. (sumber: aisyahinsani.wordpress.com)



Sunda manda atau juga disebut Ã©ngkléktéklékingklingsundamanda / sundah-mandahjlong jlinglempeng, atau dampu adalah permainan anak tradisional yang populer di Indonesia, khususnya di masyarakat pedesaan.
Permainan ini dapat ditemukan di berbagai wilayah di Indonesia, baik di Sumatra, Jawa, Bali, Kalimantan, dan Sulawesi. Di setiap daerahnya dikenal dengan nama yang berbeda. Terdapat dugaan bahwa nama permainan ini berasal dari "zondag-maandag" yang berasal dari Belanda dan menyebar kenusantara pada zaman kolonial, walaupun dugaan tersebut adalah pendapat sementara.
Permainan Sunda manda biasanya dimainkan oleh anak-anak, dengan dua sampai lima orang peserta. Di Jawa, permainan ini disebut engklek dan biasanya dimainkan oleh anak-anak perempuan. Permainan yang serupa dengan peraturan berbeda di Britania Raya disebut dengan hopscotch. Permainan hopscotch tersebut diduga sangat tua dan dimulai dari zaman Kekaisaran Romawi.

Cara bermain
Peserta permainan ini melompat menggunakan satu kaki disetiap petak-petak yang telah digambar sebelumnya di tanah.
Untuk dapat bermain, setiap anak harus berbekal gacuk yang biasanya berupa sebentuk pecahan genting, yang juga disebut kreweng, yang dalam permainan, kreweng ini ditempatkan di salah satu petak yang tergambar di tanah dengan cara dilempar, petak yang ada gacuknya tidak boleh diinjak / ditempati oleh setiap pemain, jadi para pemain harus melompat ke petak berikutnya dengan satu kaki mengelilingi petak-petak yang ada.
Pemain yang telah menyelesaikan satu putaran terlebih dahulu, berhak memilih sebuah petak untuk dijadikan "sawah" mereka, yang artinya di petak tersebut pemain yang bersangkutan dapat menginjak petak itu dengan kedua kaki, sementara pemain lain tidak boleh menginjak petak itu selama permainan. Peserta yang memiliki kotak paling banyak adalah yang akan memenangkan permainan ini.


Engklek merupakan sebuah permainan dengan cara melemparkan trengkal (pecahanan genteng berukuran + 5 x 5 Cm) yang disebut patah.. Permainan ini mengejawantahkan usaha anak untuk membangun “rumah”-nya. Atau bisa pula bermakna sebagai perjuangan manusia dalam meraih wilayah kekuasaannya. Namun bukan dengan saling sruduk. Ada aturan tertentu yang harus disepakati untuk mendapatkan tempat berpinjak.

Engklek dapat dimainkan di lapangan, halaman, jalanan atau bahkan teras rumah, yang penting luas lahan tidak kurang dari 3 x 4 meter. Pada lahan itu kemudian  dibuat  kotak-kotak  dan  lingkaran.  Masing-masing  kotak  umumnya berukuran + 30 x 60 Cm, semen-tara panjang jari-jari lingkaran + 1 meter. Kotak dan lingkaran tersebut dibuat dengan guratan kapur, arang atau guratan kayu di atas tanah. Ada tiga pola yang dapat digunakan untuk bermain engklek, sebagai-mana gambar berikut.

Engklek biasa dimainkan oleh anak-anak perempuan berumur 6 – 12 tahun. Anak remaja jarang terlibat, mungkin karena “takut” dicemooh “kekanak-kanakan” oleh teman-temannya, jika kedapatan memainkannya. Begitu pula anak lelaki. Mereka enggan bermain engklek karena “takut” dicemooh seperti perempuan. Permainan ini dapat dilakukan secara perorangan maupun beregu. Jika dimainkan secara beregu, satu kelompok maksimal beranggotakan 5 orang.

Cara memainkannya tidak terlalu sulit. Ketika akan memulai permainan, terlebih dahulu peserta harus  menentukan urutan giliran main dengan cara hompimpah dan suit. Hompimpah akan ditempuh jika peserta lebih dari 3 orang/kelompok.

Hompimpah alaihum gambreng,
Hompimpah alaihum gambreng,

Jika pada awal hompimpah disepakati, bahwa pemenang adalah telapak tangan terbuka, maka perserta yang telapak tangannya tertutup dinyatakan si kalah. Hompimpah bisa dilakukan berkali-kali sampai tiap peserta mendapatkan urutan giliran bermain.

Jika engklek hanya dimainkan oleh dua orang, maka penentuan urutan giliran bermain akan dilakukan dengan sut (suit).
Sut adalah “mengadu” jemari tangan (jempol, telunjuk dan kelingking) dengan ketentuan jempol mengalahkan telunjuk, telunjuk mengalahkan kelingking, dan kelingking mengalahkan jempol.

Pemain nomor urut pertama memulai permainan dengan melemparkan patah ke kotak 1.
Jika lemparannya meleset, maka ia tidak dapat meneruskan permainan, menunggu nomor urut terakhir menyelesaikan permainan. Jika berhasil, maka dia meloncat dengan satu kaki ke kotak 2, kemudian ke kotak 3 Pada kotak yang berpasangan dia boleh menjejakkan kedua kakinya. Dia terus meloncat-loncat dengan satu kaki  sampai lingkaran dimana dia boleh menjejakkan kedua kakinya. Dari lingkaran, dia memutar badan, kemudian meloncat-loncat kembali seperti sebelumnya.

Pada kota 2 dia memungut patah, loncat ke kotak 1 dan terus keluar. Selanjutnya dia melemparkan patah ke kotak 2, kemudian meloncat-loncat kembali ke kotak-kotak yang kosong (tidak ada patah). Kotak dimana ada patah tidak boleh diinjak. Dengan demikian, bisa terjadi seorang pemain harus melompat dengan melewati dua atau tiga kotak. Ketika melompat, jejakan kaki pun tidak boleh menyentuh garis karena jika melakukannya, maka dia dianggap gugur, dan harus menunggu giliran main. Melempar patah dan melompat dengan satu kaki terus dilakukan hingga lingkaran. Dari sana kemudian  berputar, pemain melempar patah ke kotak-kotak yang teratas sampai yang terbawah. Pada kotak yang berpasangan, lemparan harus ditujukan ke kotak sebelah kanan terlebih dahulu.

Seseorang dianggap telah menyelesaikan permainan jika dia telah melempar patah ke dalam lingkaran dan bisa meloncati semua kotak sampai ke kotak 1 dengan selamat. Pemain ini kemudian akan melempar patah ke sembarang kotak sambil membelakangi arena permainan untuk menentukan “rumah”-nya. Di rumah itu dia boleh memberi tanda dengan gambar apa saja, dan rumah itu tidak bisa dikuasai oleh pemain lain, rumah tersebut menjadi wilayah kekuasaan pemain tersebut. Barang siapa yang mempunyai banyak wilayah, maka dialah pemenangnya.

Kendati demikian, hanya pemain yang beruntung saja yang dapat menemukan “rumah”-nya dalam satu kali lemparan. Jika lemparan patah mengenai garis atau ke luar bidang permainan, maka dinyatakan tidak sah. Si pemain harus melempar ulang setelah menunggu giliran pemain berikutnya menyelesaikan permainan..
Permainan engklek biasa berlangsung antara 30 menit sampai 2 jam, bahkan bisa lebih. Namun demikian, kadang terjadi permainan berakhir ketika pemain dipanggil pulang untuk disuruh tidur, mandi, makan atau membantu pekerjaan orang tuanya.


Permainan Pacih atau Engklek dari Aceh
Permainan ini biasanya dimainkan oleh anak perempuan yang berusia 8-12 tahun.  Permainan Pacih membutuhkan alat permainan yang terbuat dari kayu atau batau atau ada juga yang terbuat dari biji-bijian, asal bentuknya bulat, pipih, dan ringan.  

Sarana permainan ini adalah sebuah tanah yang tidak berumput dan sedikit berdebu. Sebelum memulai permainan dibuatlah kotak-kotak yang berbentuk tanda tambah (+).  Setiap peserta menggunakan lempengan batua atau kayu yang bulat tadi.

Menurut Dr. Smpuck Hur Gronje, permainan ini berasal dari India dan dibawa atau diperkenalkan di Aceh sewaktu mereka singgah di Aceh beberapa abad yang lampau.

Sumber :
http://disporbudpar.cirebonkota.go.id/index.php/Artikel/engklek.html


Friday, 22 February 2013

✎ Oleh-oleh Kerajinan Kayu Khas Indonesia


Hampir setiap traveler tak pernah lupa membawa oleh-oleh setelah traveling. Apalagi kalau buah tangan yang dibawa bernilai seni, seperti 4 suvenir ukiran kayu paling keren di Indonesia ini.
Suvenir bukan sekadar benda yang dibeli turis untuk mengenang tempat yang pernah dikunjungi. Nilai sebuah suvenir semakin berharga bila benda itu karya seni asli buatan tangan penduduk setempat.

Di Indonesia, ada beberapa suvenir yang bernilai seni tinggi, bahkan diincar turis, yaitu aneka ukiran kayu. Inilah 4 oleh-oleh ukiran kayu paling keren khas Indonesia: 
 

1. Patung kayu Suku Asmat, Papua
Oleh-oleh ukiran kayu pertama yang tidak boleh Anda lupa adalah patung kayu Papua. Daerah ini memang terkenal dengan aneka hasil ukiran kayu yang cantik. Salah satunya yang paling terkenal dan diburu turis dalam dan luar negeri adalah ukiran kayu suku Asmat.

Ukiran kayu hasil suku Asmat terkenal memiliki tingkat kerumitan yang tinggi. Ini bisa dilihat dari jenis alat yang digunakan untuk memahat, masih sangat tradisional. Jadi jangan heran kalau harga cinderamata ini mahal, yaitu bisa mencapai ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

Selain ukiran suku Asmat, masih ada lagi ukiran kayu lain yang dibuat penduduk asli Papua, dan tak kalah keren. Salah satunya adalah patung berwujud pria Papua dengan mengenakan koteka.

Ada banyak toko yang bisa dimasuki untuk membeli cinderamata khas ini. Anda bisa membeli di Sorong, atau di Jalan Ahmadi yang ada di Jayapura. Harganya pun beragam. Untuk patung ukiran kayu ukuran sedang dikenai harga Rp 100.000.


Gambar:


2. Pajangan kayu Komodo, NTT
Setelah Papua, daerah lain yang juga memiliki oleh-oleh berupa patung kayu ada di Pulau Komodo, Flores, NTT. Patung ini berbentuk seperti hewan khas yang ada di sana, yaitu Komodo (Varanus komodiensis).

Jika dilihat dari bentuk hingga corak, patung kayu ini terlihat sangat mirip. Hanya saja, patung Komodo ini tidak dicat dengan warna yang sama seperti hewan aslinya. Patung Komodo hanya diberi warna alami, yaitu cokelat.

Meski begitu, warna yang ada tidak menurunkan nilai seni dan keindahan sang patung sama sekali. Bahkan, benda ini tetap wajib dibeli sebagai tanda Anda telah menapakkan kaki di atas bumi kadal purba ini.

Membelinya pun tidak sulit. Datang saja ke Pulau Komodo yang masuk dalam wilayah Taman Nasional Komodo (TNK). Biasanya, di wilayah pintu keluar trekking, para turis langsung dihadapkan dengan kelompok para pengrajin kayu.

Ada banyak kerajinan kayu yang bisa Anda beli. Beberapa di antaranya adalah patung komodo. Soal harga tidak perlu kuatir karena bisa ditawar. Untuk satu patung komodo ukuran kecil dikenai harga Rp 30.000/buah. Tapi jika pandai menawar Anda bisa mendapatkannya dengan harga Rp 25.000/buah.


Gambar:


3. Patung Badak khas Ujung Kulon, Banten
Ujung Kulon di Banten juga punya oleh-oleh khas yang tidak boleh dilupakan turis, yaitu ukiran patung badak. Sesuai namanya, ukiran kayu ini berbentuk badak dengan cula satu. Model ini diambil dari hewan khas yang ada di sana.

Sama seperti ukiran suku Asmat, patung badak ini dibuat oleh penduduk lokal di Ujung Kulon. Salah satu tempat yang dihuni pengrajin patung badak ada di Kampung Cinibung, Desa Kertajaya, Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK).

Patung badak yang dibuat penduduk lokal ini cukup beragam. Mulai dari gantungan kunci hingga patung untuk pajangan meja. Semuanya dicat dan diberi warna beragam, ada yang hijau, merah, ada pula yang biru.

Yang lebih keren lagi, semua suvenir ini dibuat dari limbah kayu lamin. Para pengrajin sama sekali tidak menebang pohon yang ada di TNUK. Benar-benar menjaga kelestarian alam.

Mau tahu harganya? Patung badak yang terbuat dari kayu lamin, dengan berukuran 15 cm dijual dengan harga Rp 45.000/buah. Sedangkan, patung badak kecil dengan ukuran 5 cm dijual dengan harga Rp 15.000/buah. Untuk patung badak yang terbuat dari kayu jati berukuran 15 cm dijual dengan harga Rp 65.000/buah.

Membelinya, sama saja Anda ikut mendukung kelestarian lingkungan.


Gambar:


4. Batik kayu Krebet, DI Yogyakarta 
Selain kain batik, kerajinan lain yang ada di DI Yogyakarta adalah seni membatik di atas kayu. Anda bisa melihatnya di Desa Krebet yang terletak di Kabupaten Bantul, 12 km barat daya dari Kota Yogyakarta.

Datang ke sana, pelancong bisa melihat ada banyak ukiran kayu. Beberapa di antaranya adalah topeng, sendal, hiasan dinding, gelang dan masih banyak lagi. Uniknya, semua kerajinan ini diberi motif batik.

Lebih asyik lagi, karena Desa Krebet adalah desa wisata, turis yang datang bisa menginap di sana. Bahkan, pelancong bisa ikut belajar membuat patung batik ini.

Namun, jika tidak ingin repot membuat, Anda bisa membelinya sebagai oleh-oleh. Ada banyak jejeran kios yang bisa dimasuki turis untuk berburu cinderamata ini. Rata-rata dari kios penjual kayu batik mematok harga dagangannya sekitar Rp 2.000 sampai Rp 300 ribu.


Gambar:


Datang ke Jogja pun semakin seru dengan oleh-oleh khas ini.
 


Sumber : 
kaskus.co.id

Monday, 5 November 2012

✎ Blangkon Jawa

Blangkon adalah tutup kepala yang digunakan oleh kaum pria sebagai bagian dari pakaian tradisional jawa.

Blangkon sebenarnya bentuk praktis dari iket yang merupakan tutup kepala yang dibuat dari batik. Tidak ada catatan sejarah yang dapat menjelaskan asal mula pria jawa memakai ikat kepala atau penutup kepala ini.

Pada masyarakat jawa jaman dahulu, memang ada satu cerita Legenda tentang Aji Soko. Dalam cerita ini, keberadaan iket kepala pun telah disebut, yaitu saat Aji Soko berhasil mengalahkan Dewata Cengkar, seorang raksasa penguasa tanah Jawa, hanya dengan menggelar sejenis sorban yang dapat menutup seluruh tanah Jawa. Padahal seperti kita ketahui , Aji Soko kemudian dikenal sebagai pencipta dan perumus permulaan tahun Jawa yang dimulai pada 1941 tahun yang lalu.

>Ada sejumlah teori yang menyatakan bahwa pemakaianblangkonmerupakan pengaruh dari, budaya Hindu dan Islam yang diserap oleh orang Jawa. Menurut para ahli, orang Islam yang masuk ke Jawa terdiri dari dua etnis yaitu keturuan cina dari Daratan Tiongkok dan para pedagang Gujarat. Para pedagang Gujarat ini adalah orang keturunan Arab, mereka selalu mengenakan sorban, yaitu kain panjang dan lebar yang diikatkan di kepala mereka. Sorban inilah yang meng-inspirasi orang jawa untuk memakai iket kepala seperti halnya orang keturunan arab tersebut.

Ada teori lain yang berasal dari para sesepuh yang mengatakan bahwa pada jaman dahulu, iket kepala tidaklah permanen seperti sorban yang senantiasa diikatkan pada kepala. Tetapi dengan adanya masa krisis ekonomi akibat perang, kain menjadi satu barang yang sulit didapat. Oleh sebab itu , para petinggi keraton meminta seniman untuk menciptakan ikat kepala yang menggunakan separoh dari biasanya untuk efisiensi Maka terciptalah bentuk penutup kepala yang permanen dengan kain yang lebih hemat yang disebut blangkon.

Pada jaman dahulu, blangkon memang hanya dapat dibuat oleh para seniman ahli dengan pakem (aturan) yang baku. Semakin memenuhi pakem yang ditetapkan, maka blangkon tersebut akan semakin tinggi nilainya. Seorang ahli kebudayaan bernama Becker pernah meneliti tata cara pembuatan Blangkon ini, ternyata pembuatan blangkon memerlukan satu keahlian yang disebut “virtuso skill”. Menurut nya : “That an object is useful, that it required virtuso skill to make –neither of these precludes it from also thought beatiful. Some craft generete from within their own tradition a feeling for beauty and with it appropriete aesthetic standards and common of taste”.

Penilaian mengenai keindahan blangkon, selain dari pemenuhan terhadap pakem juga tergantung sejauh mana seseorang mengerti akan standard cita rasa serta ketentuan- ketentuan yang sudah menjadi standar sosial. Pakem yang berlaku untuk blangkon, ternyata bukan hanya harus dipatuhi oleh pembuatnya, tetapi juga oleh para penggunanya. Seperti yang diungkapkan oleh Becker sebagai berikut: “By accepting beauty as a criterion, participants in craft activities on a concern characteristic of the folk definition of art. That definition includes an emphasis on beauty as typified in the tradition of some particular art, on the traditions and conserns of the art world itself as the source of value, on expression of someone’s thoughts and feelings, and on the relative freedom of artist from outside interference with the work”.

Blangkon pada prinsipnya terbuat dari kain iket atau udeng berbentuk persegi empat bujur sangkar. Ukurannya kira-kira selebar 105 cm x 105 cm. Yang dipergunakan sebenarnya hanya separoh kain tersebut. Ukuran blangkon diambil dari jarak antara garis lintang dari telinga kanan dan kiri melalui dahi dan melaui atas. Pada umumnya bernomor 48 paling kecil dan 59 paling besar.

Blangkon terdiri dari beberapa tipe yaitu :
  • Menggunakan mondholan, yaitu tonjolan pada bagian belakang blangkon yang berbentuk seperti Onde-onde. Blangkon ini disebut sebagai blangkon gaya YogyakartaTonjolan ini menandakan model rambut pria masa itu yang sering mengikat rambut panjang mereka di bagian belakang kepala, sehingga bagian tersebut tersembul di bagian belakang blangkon. Lilitan rambut itu harus kencang supaya tidak mudah lepas.

  • Model trepes, yang disebut dengan gaya Surakarta. Gaya ini merupakan modifikasi dari gaya Yogyakarta yang muncul karena kebanyakan pria sekarang berambut pendek. Model trepes ini dibuat dengan cara menjahit langsung mondholan pada bagian belakang blangkon.





Selain dari suku Jawa (sebagian besar berasal dari provinsi Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur), ada beberapa suku laindi Indonesia yang memakai iket kepala yang mirip dengan blangkon jawa yaitu : suku Sunda (sebagian besar berasal dari provinsi Jawa Barat dan Banten), suku Madura, suku Bali, dan lain-lain. Hanya saja dengan pakem dan bentuk ikat yang berbeda-beda.
Ini siswa OSVIA tahun 1910an (Sekolah Raja...kalau sekarang APDN... semua pake udeng) sumber KITLV Foto sumbangan dari : Bp. Sam Askari Soemadipradja



Sumber :
  • forum.detik.com
  • id.wikipedia.org
  • antoix.wordpress.com
  • wb2.itrademarket.com
  • azzambatik.com
  • warungbayiku.com
  • jogjavaganza.co.cc
  • kasatriyan.appee.com
  • truethomas.com
Sumber


Monday, 22 October 2012

✎ Permainan Tradisional yang Tertelan Zaman

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan terus mencatat seluruh warisan kebudayaan yang ada di Nusantara. Catatan itu untuk mengkomparasikan warisan budaya yang ada supaya mendapatkan pengakuan dari UNESCO.

“Permainan tradisional sekecil apapun akan kita catat dan administrasikan dalam buku besar. Ini bukan pekerjaan yang ringan, tetapi harus terus dikerjakan,” ujar Mendikbud, Mohammad Nuh, di Yogyakarta, Selasa (18/9/2012).

Kemendikbud sudah membentuk tim pencatat, meski pencatatan warisan budaya nusantara ini tidak akan selesai dalam kurun waktu lima tahun.

Pencatatan warisan budaya itu membutuhkan waktu yang cukup lama, karena yang didata bukan hanya jawa, tetapi seluruh Indonesia. Apalagi, menurut Nuh, bahasa yang ada di Indonesia sendiri lebih dari 600-an.

“Mulai dari permainan-permainan tradisional itu kan banyak yang hilang. Salah satu contoh, Jarang Kepang atau bahasa Jawa Tengah-nya Kuda Lumping. Permainan itu kan kita sudah mengetahui semua, tetapi saat ditanya mulai kapan adanya Jarang Kepang? Abad Ke berapa? Nggak ono sing eroh,” ujar Nuh dengan khas logat Jawa.

Dia menambahkan, beberapa pertanyaan seperti filosofi Jarang Kepang? Kapan Jaran Kepang diperagakan? kembali lagi Nuh mempertegas tidak ada yang mengetahui secara detail.

Dari penelusuran itu, tugas tim pencatat dari Kemendikbud harus mengali lebih dalam untuk mengurai benang kusut yang selama ini ada di masyarakat.

“Kenapa kok pakai kepang atau gedhek. Apa nilainya? kenapa kok setelah melakukan tarian itu muncul semacam magis, kemudian pemainnya makan beling. Ono lombok (cabe) kok maem beling. Itu lebih menarik lagi kalau lombok campur beling jadi rujak beling,” kelakarnya sambil tertawa.

“Apa makna nilai yang ada dalam jarang kepang itu menjadi tugas kita melestarikan, membukukan, agar tidak punah ditelan zaman. Lembaga yang melakukan pencatatan dari departenmen kebudayaan,” jelasnya.

Nuh kembali mengingatkan permainan bentik, yang mengunakan batang pandan sebagai pemukul dan batang kecil untuk dipukul. Kemudian, permainan dakon, permainan grobak sodor, dan masih banyak permainan tradisional lainnya yang kini sudah jarang dimainkan oleh anak-anak, remaja, maupun orang tua karena tidak memiliki nilai ‘ekonimis’ bagi pemainnya.

“Lah kalau permainan-permainan ini tidak kita angkat kembali, kita khawatir permainan-permainan tradisional ini akan hilang. Itu semua kekayaan kita, itu semua warisan-warisan budaya dari pendahulu kita,” jelasnya.

Sumber : okezone.com

Monday, 1 October 2012

✎ Mengenal Desa Kasongan, Bantul


Desa Kasongan di wilayah Kabupaten Bantul cukup dikenal seantero dunia. Tentu, berkat produk gerabah yang menjadi trade mark penduduk sekitarnya. Kawasan Desa Kasongan ini memang sudah menjadi satu kawasan yang menjadi bagian kalender wisata pemerintah setempat. Artinya, banyak kalangan jika memasuki Jogja seperti wajib mengunjungi kawasan ini. Meski begitu, barangkali memang masih cukup banyak yang tidak tahu mengenai kawasan ini. Oleh sebab itu, jika ada wisatawan yang mau berkunjung, maka jika sudah sampai kawasan kota Jogja, tinggal mencari arah yang merupakan Jalan Bantul. Pada kilometer 10 di Jalan Bantul itulah di sebelah barat jalan akan ada gapura yang bertuliskan Kasongan. Tinggal masuk ke barat akan sampailah ke kawasan desa gerabah ini.
Produk gerabah dan juga keramik yang ada di Kasongan cukup terkenal karena kualitasnya yang cukup baik. Sampai diekspor ke luar negeri pun tahan lama. Tentu, hal ini membuktikan bahwa produk yang ada di Kasongan boleh dikata layak sebagai produk kebanggaan Jogja.
Ada banyak show room gerabah dan keramik yang bertebaran di seantero Desa Kasongan. Tinggal dipilih saja mana yang diminati. Di kawasan Desa Kasongan kendaraan berupa bis atau truk bisa masuk. Sehingga memudahkan bagi pewisata untuk menikmati secara nyaman jika singgah ke kawasan ini.



Untuk soal harga, berkisaran antara puluhan ribu hingga ratusan ribu. Dan semakin banyak barang yang Anda beli, maka semakin besar diskon yang akan Anda dapat.

Jika ke Yogyakarta, mampirlah ke Bantul, karena banyak yang bisa dilihat kususnya desa wisata ini....hehehe 


Sunday, 30 September 2012

✎ Manding, pusat kerajinan kulit, Bantul


Kerajinan kulit selalu identik dengan Manding, Bantul. Terletak di Jl Parangtritis KM 11,5 Desa Manding Rt 08/05, Sabdodadi, Bantul. Jogja menjadi tempat yang pas untuk berburu aneka macam kerajinan, tempat ini menjanjikan berbagai macam koleksi kerajinan kulit, mulai dari gantungan kunci, sepatu, dompet, aneka boot, topi, tas bahkan bisa membuat sesuai pesanan anda.


Harga berani bersaing dengan kompetitor dari kota lain dengan kualitas yang selalu dijaga. Beraneka ragam, ukuran dan jenis produk yang ditawarkan memberi kesempatan kepada anda untuk memilih barang sesuai dengan selera anda. Sepanjang jalan anda akan disuguhi oleh showroom yang menawarkan kerajinan kulit dengan berbagai variasi jenis dan model. Sebagian besar produk kerajinan kulit di sini terbuat dari kulit sapi.

Sensasi tawar menawar barang menjadi keunikan tersendiri, biasanya harga yang ditawarkan lebih tinggi dari harga asli, oleh karena itu pandai-pandailah menawar suatu barang. Selamat berburu dan menikmati sajian khas kota Yogyakarta.




Ping your blog, website, or RSS feed for Free

Total Pageviews

Histats